Kisah Cinta Misteri : Kijang Kencana Untuk Pacarku

Iklan 728x90

Kisah Cinta Misteri : Kijang Kencana Untuk Pacarku

Shinta tercinta. Suatu hari di belantara aku melihatmu sendirian di bawah rimbun pohon mahoni. Kamu tidak tahu Shinta, mahoni bukanlah trembesi, buahnya yang telah tua jika jatuh bisa saja membuatmu terluka. 

Dan aku ingin membawamu pergi bukan karena takut kamu terluka, tapi aku ingin membawamu bersanding di singgasana Alengka.
Seperti setiap trembesi di belantara, akulah trembesi itu bukan mahoni yang pahit lagi melukai. 

Ya akulah trembesi yang teduh meski panas kemarau membakar bumi. Mungkin itu hanya perasaanku saja, tapi aku adalah benar-benar trembesi. Mungkin kamu belum mengenal trembesi karena kamu adalah gadis kota yang sendirian di tengah belantara. Tapi aku yakin kamu memahami maksudku. Tidak seperti kami para raksasa, kamu mungkin baru saja lulus kuliah atau mungkin kamu sedang melanjutkan kuliah kemudian jatuh cinta pada seorang pria. 
Lantas kalian menikah.
Shinta. 
Hanya sekilas aku melihatmu dan secepat itu pula aku mencintaimu, benar-benar mencintaimu, bukan cuma merasa mencintaimu. Ini bukan cinta monyet, aku sudah terlalu tua untuk bermain-main dengan cinta. 
Ini adalah cinta yang tulus dari hati yang paling dalam. 
Andai saja aku benar-benar trembesi, bukan raksasa tentu kamu akan berlindung dibawah rimbunku. Sayang sekali aku hanyalah perumpamaan trembesi tua. 

Tidak apalah, aku memang benar-benar tua. Dan cinta tidak perlu melihat usia. Bukan begitu Shinta?
Tentu saja kamu tidak menjawabnya Shinta cintaku.
Aku hanya mengangankanmu. Mengimpikanmu yang tidak pernah hadir dalam mimpiku. Hanya khayalan Shinta. 

Meski aku berharap kamu hadir dalam mimpi tidurku, tak pernah sekalipun kamu singgah. 
Titiyoni. 
Gondoyoni. 
Puspotajem.
Shinta cintaku. 

Begitulah pujangga Alengka sering membual. Aku tahu Shinta, dia hanya berusaha membuatku bahagia dan aku tahu dia telah menipuku. Tapi aku suka tipuanya meski aku tahu telah ditipu. Dan suatu malam ketika lewat di samping gandoknya sayup kudengar dia berbicara dengan gendakanya, dia menyadari kalau aku tahu dia telah menipunya tapi dia pura-pura tidak tahu kalau aku tahu telah dia tipu. Congor trocoh-nya, itulah yang membuatnya tetap bertahan menjadi pujangga Alengka.
Sudahlah Shinta. 

Biarkan dia ndleming medar Bataljemur Adamakna, meski suaranya mleto ngglero toh setidaknya bisa membawaku ke puncak khayalan bersamamu.
Shinta sayangku. Cintaku. Aku ini seorang raja, penguasa dari wilayah tiada batas, panglima tertinggi dari bala tentara raksasa. Tiada satupun tetangga Negara yang tidak tunduk di bawah kakiku. Tapi Shinta, aku tak berdaya, aku lemah, aku terpuruk oleh senyummu.
Shinta cintaku. 

Lihatlah bala tentaraku. 
Datan pama ngungguli jurit pra wadyabala.
Waspadakna………!
Pra raseksa rong bregodo cacahe anitih rata tinarik sardula sirah singa. Pating glereng surake pinda waringin rubuh. 
Ah Shinta sayangku. Apakah kamu terpesona?
Shinta cintaku. Kau lihat yang di sana.
Lihatlah….!
Krida tan umpama. Pra wadya raseksa sesumping dapuran pring kairing gandarwa sabuk ula luwuk, titian rata tinarik naga sirah sima. Sratine pra bala bacingah bebinggel ula diwel, klat bahu ula buhu.

Ah Shinta, Shinta sayangku kenapa kamu tetap tidak terpesona. Atau karena pujangga tua di depanku memuakanmu? Jika memang itu maumu biarlah dia ku pecat hari ini juga. 
Tapi Shinta tentu kamu tidak menjawabnya. Aku terbuai khayalan tentangmu Shinta. Dan kamu hanyalah angan belaka. Rama keparat itu telah mendahului takdirku. Kau dengar kidung katresnanku berkumandang menembus mega, menggaung di antara trembesi alun-alun Alengka.

Kamu pasti tidak mendengarnya Shinta sayangku. 
Aku telah kehilangan banyak harapan, bahkan kehilangan saudara. Saudaraku terpecah belah karena ketidakpahaman akan gejolak cintaku. Wibisana telah lama pergi jauh terakhir ku dengar dia mengabdi pada Rama, adiku yang sangat ku syangi telah terenggut. Kumbakarna sudah terlalu muak dengan polahku dan memutuskan tidur mendengkur selamanya. Dan kini haruskan cintaku padamu juga terenggut sebagaimana cinta dan sayang pada saudaraku. 

Betapa derita yang harus ku tanggung perih tak terkira. 
Shinta aku ini hanyalah pecinta yang merana. Andai seluruh kekuasaanku dilepas itu tidak berarti apapun dibanding melepas dirimu. Jika aku kemudian nekad membawamu bukan karena apa-apa. aku hanya ingin mengungkap perasaan yang menyiksa. Aku ingin kamu mencintaiku tulus, bukan karena aku kijang kencana. Akulah Rahwana yang membo jadi kijang kencana.

Aku merasakan tulusnya uluran tanganmu pada lelaki tua, aku merasakan getar hatimu ingin membelai kijang kencana. Ulurkanlah tanganmu dan belailah aku si Rahwana ini.
Shinta impianku. Jika kijang itu aku maka aku tidak bisa mengirimu kijang karena akulah kijang itu. Jika kamu begitu benci Rahwana mengapa menginginkan kijang itu. Shinta kesaktianku mampu menjadikan apapun jadi miliku, tapi apakah aku harus meneluhmu untuk mengemis cintamu. Tidak Shinta. Aku menginginkan cintamu bukan menginginkan penyerahanmu. 

Shinta sayangku. Cintaku. Terimalah kijang kencana ini. Inginkanlah sebagaimana ketulusanmu.

Shinta akulah kijang kencana itu.
Akulah Rahwana. Dasamuka. Pemburu cinta yang kesepian.

Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Post a Comment